Senin, 10 September 2018




Nyatanya sekolah belum mejadi tempat yag aman bagi siswa yang berusia remaja. UNICEF menyebutkan bahwa setengah dari remaja di dunia masih mengalami kekerasan disekolah. Dalam laporan terbarunya itu dinyatakan, sebanyak siswa berusia 13-15 tahun yang setara dengan 150 juta remaja di dunia pernah mengalami kekerasan, baik berupa kekerasan fisik maupun bullying. Kekerasan tersebut mereka  dapatkan dari teman sebaya maupun dari guru di sekolah.
UNICEF juga menemukan 720 juta anak sekolah bertempat tinggal di negara yang tidak melindungi mereka dari hukuman fisik di ranah pendidikan.

"Sekolah tidak menjadi tempat aman sebagaimana mestinya, karena perundungan, karena hukuman fisik oleh guru, dan serangan terhadap sekolah," kata penasihat senior UNICEF, Claudia Cappa, dikutip dari CNN.

Dari laporan yang menganalisi data 122 negara, mewakili 51% dari populasi remaja yang berusia 13-15 tahun, dimana dalam penelitian rata rata setiap 50% remaja di seluruh negara di dunia pasti pernah mengalami kekerasan di sekolah.

Dinyatakan juga, satu dari tiga remaja berusia 13-15 tahun pernah mengalami perundungan dan terlibat dalam perkelahian fisik. 
Sedangkan perihal kekerasan yang terjadi akibat guru, dalam laporan menunjukkan bahwa kejadian tersebut lebih rentan terjai pada siswa yang lebih muda. Data di India, 78% siswa berusia 8 tahun mengalami kekerasan disekolah akibat hukuman guru, dan perbadingan siswa yang berusia 15 tahun hanya 34% sisanya yang mendapatkan hukuman serupa.

Bahkan, laporan juga menemukan kekerasan seksual di sekolah yang terjadi antarteman sebaya nya. Seperti di Kenya, ada satu dari limana anak perempuan dan laki-laki yang dilaporkan mengalami kekerasan seksual sebelum berumur 18 tahun. Dan rata-rata dari mereka menyatakan bahwa mendapatkan hal seperti itu pertama kali di sekolah.

Selain itu, laporan juga memperkirakan biaya yang timbul akibat kekerasan pada remaja mencapai US$57 triliun di seluruh dunia.

Namun, penelitian juga menemukan kesadaran pada anak akan kekerasan mulai meningkat. Cappa optimistis kekerasan serupa bakal menurun di masa depan.

"Ada lebih banyak anak yang berani berbicara melawan kekerasan dan banyak guru yang mulai dilatih. Kami punya alasan untuk optimistis bahwa kekerasan dapat ditangani segera," ucap Cappa.

Cappa mengaku bahwa saat ini UNICEF telah bekerja sama dengan berbagai macam mitra sekolah yang ada di dunia guna menangani berbagai macam kasus berbau kekerasan pada anak. UNICEF juga mendorong anak-anak agar lebih berani dalam berbicara maupun menolak segala jenis kekerasan di sekolah yang dilakukan oleh teman sebaya nya maupun oleh gurunya dengan baik dan hormat.


Source :  CNN Indonesia | Sabtu, 08/09/2018 21:27 WIB
Ilustrasi (AFP PHOTO / Mahmud Hams)